Wednesday, March 19, 2008

NM-Food

Mari kita bercerita tentang makanan!! Sayangnya aku hanya punya beberapa foto makanan khas sana. Ada beberapa makanan yang menarik di sana, salah satunya makan singkong dan pisang pake sambel. Di salah satu sekolah kita disuguhi singkong mentega dengan sambel yang berasa banget plus ikan teri yang digoreng kering.

Sekarang, aku mau cerita tentang Gohu. Makanan ini berbahan dasar ikan mentah tanpa dimasak (ya iyalah, makanya mentah), dicampur dengan bumbu-bumbu sederhana (bawang, cabe, kemangi) termasuk jeruk (kayanya) tapi malah membuat makanan ini luar biasa enak dan sangat-sangat... ngangeni. Ikan segar itu dipotong kecil-kecil, trus dicampur bumbu-bumbu tadi (seandainya Tita ikut, aku yakin makanan ini akan masuk blog heavenly and glorious food-nya). Rasa ikannya sangat juicy tapi juga kenyal, gurih dan beraroma segar.
Makan di North Maluku membuat aku berfikir: orang-orang di sini sangat sadar apa yang disebut dengan diversifikasi pangan. Makanan yang mengandung karbohidrat tidak hanya berupa nasi, tetapi juga pisang rebus, singkong, sukun (breadfruit) dan sagu. Sayang banget waktu itu aku ga kebagian papeda. Well, setidaknya itu jadi tanda kalo aku akan balik lagi ke sana hehehe.

Sagu dimakan dengan semacam gulai ikan yang spicy banget. Aku dan temanku sibuk mencoba semua jenis karbohidrat itu bersama semua jenis sayuran dan ikan-ikan yang ada. Pesta! Mencoba makan gohu dengan singkong yang sangat menggoda: berwarna kuning, berlemak (karena dikukus dengan santan) dan sangat-sangat gurih. Makan gohu dengan pisang dicampur dengan daun pepaya, makan lagi pisang yang lain dan sukun dicampur ini dan itu. Mari kita bereksperimen.

Jam makan di Tidore jadi lebih lama dari yang direncanakan. Biar dikata di sekolah kita udah dijamu dengan singkong, sambel dan teri kering, rasanya perut ini berubah amat sangat luas, bisa menampung apa saja yang dihidangkan. Ikan bakar dengan irisan bawang, tomat dan cabe yang sangat mengundang liur masih nongkrong di depan kita, kasian kalo dianggurin. Teman-teman dari meja satu mulai berkelana ke meja lain, mencari gohu yang masih nganggur. Siang itu, gohu emang menjadi primadona kita. Semua puas, pada lahap, sampe ada pake menjilat jari segala gitu!

NM-New (Crazy) Friends

Mari kita list satu persatu temen-temen baruku ini, demi menjaga privasi mereka, nama aslinya tidak akan aku sebutkan. Kasian kalau sampai para jurnalis mendatangi mereka meminta konfirmasi. Aku sangat beruntung karena temen-temen baru ini sama gilanya denganku (atau lebih gila?)

Ibu (bukan berarti dia sudah menikah) yang satu ini (bayangkan suaraku kaya suara penyiar di acara Berpacu dalam Melody) berasal dari tanah Pasundan dengan aksen Parahiyangan yang mani kental pisan. Lucu rasanya punya temen sekamar yang hampir mirip, mulai dari potongan rambut, badan, tas sampe sama-sama pake braces!

Nah, Bapak yang juga belum menikah ini, menjungkirbalikkan kesan pertama yang ditampilkannya dulu di kantor Jogja. Aku sama sekali tidak menyangka dia ternyata makhluk gokil, jago dangdut (terbukti dia menyanyi di acaranya pak boss malam itu) dan banci kamera! Aku paling suka menggodanya dengan aksen Tegalnya. Aslinya mana Mas? Tegal. Dia punya pasangan yang tak terpisahkan sampe sekarang sekamar di kost. Akan ada cerita tentangnya di serial berikutnya.
Mungkin karena sama-sama punya logat yang berbau banyumasan, cowo yang satu ini dekat dengan pria yang sebelumnya aku sebutkan. Cowo yang posturnya lumayan bagus (lumayan doang lho Ji!) ini cukup lucu. Dan sangat menyukai anak-anak, pintar dalam menjelaskan kepada orang tua dan juga... suka dangdut. God, kenapa orang-orang kantor sini semua terkontaminasi dengan dangdut ya? Hahahaha... tapi seru juga sih. Meski gila, dia sangat perhatian, apalagi pada temenku yang berikut ini:

Nona paling berisik, paling seru, paling heboh di kantor mungkin tepat untuknya. Mungkin karena hebohnya itu makanya anak-anak selalu menyukai ketika dia memfasilitasi kelompok anak. Paling asik jalan dengannya karena tidak peduli dengan kulit yang menghitam setelah berenang di pantai. Teriakannya booook... dia mengingatkanku pada temen2ku di Jogja, heboh, gila, suka dangdut dan suka makan!! Aku selalu suka teman seperti ini hahaha.

Satu lagi yang sama gilanya, cewe Batak-Jawa yang luar biasa radarnya kalo ada kamera. Langsung gaya. Ga peduli sedang apa. Ga peduli suasana apa. Dan menderita penyakit sirik akut ketika dia hanya kebagian sedikit kelompok anak, karena dia emang tergila-gila dengan anak-anak. Selalu senang bermain bersama mereka. Sampai-sampai di satu sekolah, dia dikebuti seperti gula dikerubuti semut. Hihihi... lucu juga kalo ingat dia bisa trauma dengan anak-anak saat ini.

Masih banyak yang seru dari teman-teman yang aku temui, seorang bapak yang sangat-sangat menyukai sejarah dan membuatku yang tidak suka sejarah jadi sering bertanya-tanya padanya, temen dari Myanmar yang serasa udah kenal lama, bapak advisor yang sangat humble dan menyenangkan, pak koordinator yang gila rhoma irama dan iyet bustami, pak koordinator satunya yang punya anak kaya kembarannya sendiri, pak deputy dengan lidah menjulur dan mata melototnya, yang membuatku melayangkan banyak pukulan ke badannya karena kaget atau bahkan pak boss yang suka melucu sampai satu-satunya temen perempuanku yang ga suka difoto, membuatku sangat menikmati kebersamaan dengan mereka.

Teman... selalu membuat kita lebih kaya dari sebelumnya. Thanks ya!!

Tuesday, March 18, 2008

NM-It's all about children!!

Datang ke NM bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk maen2 sama anak-anak hehehe. Tiba-tiba saja, dari 12 kelompok anak yang akan diajak diskusi, aku terlibat dengan 10 diantaranya. Entah angin mana yang membuat mereka meyakinkan anak-anak mereka untuk berdiskusi denganku. Tetap aja itu suatu hal yang menyenangkan, soalnya... main sama anak-anak SD kan selalu seru. Lagipula, laporan akhirnya lebih simple. Cuma scoring!!

Yang juga seru adalah gimana biar bisa menarik perhatian mereka. Termasuk bersuara kencang. Suatu kali, aku dan Etty harus berdiskusi dengan 29 anak yang akhirnya kami bagi menjadi 17 dan 12 dalam satu kelas. God!! May bilang kami berdua seperti sedang adu vokal, kencang2an suara. Juga lomba kucur-kucuran keringat!!

Gimana engga, kelas itu kecil, gerah, ada 29 anak dalam satu kelas. Belum lagi, anak-anak di luar semua mendorong ingin masuk dan bermain. Fuuuuiiiih... Tapi seru aja sih maen sama anak-anak itu, apalagi kalo mereka bisa ngakak karena lelucon or karena permainan yang kita ajarkan.

Ga tau karena mereka jarang bertemu dengan orang dewasa yang mau diajak main dengan mereka, atau karena sebagian dari kami emang punya tampang artis (dilarang muntah) atau karena gantian mereka yang ingin menyenangkan kami, di sebagian besar sekolah, terutama pulau yang lebih kecil, selalu meminta tanda tangan kami untuk kenang-kenangan, ngajak kenalan atau sibuk memandangi kami. Yang terakhir kucurigai lebih karena mereka takjub (ngeri?) melihat braces-ku hehehe. Apapun itu, kami selalu mengambil positifnya: kami serasa artis yang berkunjung ke sekolah!

Anak-anak, di manapun itu, selalu menyenangkan!! Kecuali kalau mereka mulai beringas ketika permainan dihentikan. Salah satu temenku bilang dia kapok karena anak itu saling dorong, saling sikut dan saling teriak untuk menarik perhatiannya. Well, at least dia bisa merasakan apa yang dirasakan artis ngetop selama ini dong. Ya ga Don?

NM-Shark-Dolphin and Flying Fish

Ceritanya setelah bekerja seminggu penuh, termasuk hari libur, hari minggu pak boss ngajak kita ke pulau Maitara. Pulau Kecil di antara Ternate dan Tidore. Dengan naik speed boat dalam waktu 10 menit, kita langsung nyungsep di pulau itu. Dua cowo dan 5 cewe akhirnya siap menghitamkan kulitnya di pulau itu. Catatan, dua dari 5 cewe itu ga bisa berenang. The good news is, 5 lainnya bisa dan 2 cewe itu super duper percaya diri. Berjanji tidak akan panik kalau tenggelam.

Setelah sibuk nyelam sana nyelam sini, lebih tepatnya masuk air keluar air tanpa berenang (aku) dan berenang (semua selain Pak John and May), akhirnya rombongan memutuskan untuk mengitari pulau dengan perahu katinting (perahu kecil dengan menggunakan dayung dan atau mesin 5.5pK). Di perjalanan, Susi menjatuhkan kacamatanya, demi solidaritas (baca: keinginan untuk berenang di tengah laut yang tidak terlalu dangkal) semuanya terjun ke laut. Semua. Termasuk dua cewe yang ga bisa berenang itu kekeke.

Berpengangan pada perahu, aku sibuk menggerak-gerakkan kakiku di bawah. Eh... kok aku malah masuk ke bawah perahu siiiy? Bluuurrrrp. Tenang... tenang... Jangan panik. Pelan-pelan bisa ngambang lagi. Biar kedua makhluk sok pede itu bisa dimonitor bersama, maka Kevin dan Pak John membawaku (dalam arti yang sebenar-benarnya: mereka menuntunku dalam air supaya aku sampai ke perahu satunya) bergabung dengan May. Asik kan? Biar ga bisa berenang, tetap aja aku pede nyebur ke laut dan melihat ikan2 cantik itu di bawah kakiku. Keren banget tauuuuk! Perjalanan kita lanjutkan. Sambil naik perahu (2 perahu karena ga cukup) aku mulai dag dig dug berdoa dalam hati, berharap bertemu si cantik dolphin. Ketika di depan sana ada yang melompat dari air aku langsung teriak: doplhiiiiin!!
Semua menoleh. Serius lu? Serius, aku teriak. I saw doplhin!! Sumpah!! Oh my God!! kataku dengan semangat Sumpah Pemuda. Hampir aja Kevin nyebur lagi ke air, kalau si pemilik perahu tidak mengatakan: itu bukan dolphin, itu hiu. Gubrak!! Well, ya maap, aku kan anak gunung, semua yang melompat dari laut selalu kuanggap dolphin kataku tanpa merasa malu. Pun, teriakanku masih sama nyaring ketika melihat taburan star fish di bawah perahu. Cantiiiiik!!

Aku ga pernah kapok kok. Perjalanan dari pulau lain di daerah Halmahera Selatan aku duduk di atap speed boat. Di atap. Masih punya harapan yang sama. Come on, come on. Muncullah. Ketika aku melihat ke belakang, aku berteriak: Flying Fisssssshhhh!! Pak John melihat dan bilang, oh ya, flying fish. Oh my God, aku melihat flying fish. Pertama kali, bukan flying fish yang di Indosiar!! Aku teriak-teriak, sampe Pak John nanya, baru pertama kali liat? tanyanya heran. Iya, kataku, kali ini, lagi-lagi ga pake malu-malu. Oh plis d, aku kan anak gunung, wajar dong, kaya rusa masuk kampung hehehe. Tapi pas akhirnya aku liat dophin dari kejauhan, aku tidak berteriak sekeras yang sebelumnya. Udah abis tenaga neriakin ikan terbang.

North Maluku-Gamalama dan Tidore


Awal tahun kemaren, aku membayangkan kalau aku akan melakukan perjalan jauh di bulan Maret. Makanya waktu bossku menawarkan untuk ikut terlibat kegiatan di North Maluku, aku langsung bilang iya. Dan dimulailah perjalan Jogja-Makassar-Ternate. Yuuuuuk.

Ternate, hmmm kota ini tidak terlalu besar, bahkan bila dibandingkan kota kelahiranku, Pematang Siantar, angkot dan motor di mana-mana, cuma punya satu mall. Tapi yang paling mengagumkan untuk kesan pertamaku adalah: gunung ditepi pantai!! Kereeeeeeen. Gunung Gamalama (jangan-jangan Dorce berasal dari sana?) berdiri gagah dengan bekas-bekas aliran lahar waktu meletus tahun 2003 (?) yang lalu.

Memasuki kota Ternate, setelah di kantor, aku di antar ke hotel. Hotel bintang 4, baru softlaunching Desember kemaren, so, no wonder kalo pelayanannya masih ala melati. Kata-kata yang ga perlu, cara pelayanan yang super duper preman (hehehe), dan kasus-kasus unik lainnya yang menjadi santapan kami selama seminggu lebih di sana.

Pemandangan dari kamar hotel juga keren. Aku bisa langsung melihat gunung Tidore yang ada di pulau Tidore, pulau Maitara dan laut lengkap dengan speed dan kapal sebagai aksesoris (aksesoris? Plis d). Tidore dari hotel seperti di foto ini, bisa lebih bagus lagi, seandainya cuacanya lebih bagus, kameranya lebih bagus dan yang ngambil gambar lebih pinter wakakaka.

Datang ke Ternate, membuatku menyadari ternyata aku menyukai laut sodar-sodara!! Aku suka naik speed boat! Padahal selama ini, kalo aku liat pertualangan di laut, aku langsung membayangkan pusingnya, mualnya dan gonjang-ganjinya. Waktu dijalani sendiri, ternyata... seru banget!! Aku sampe kagum sama diri sendiri hahaha.


Hari-hari selanjutnya diisi dengan training dan pengumpulan data, sesuatu yang membuatku lebih semangat lagi. Pertualangan ini akan semakin seru, karena aku tidak hanya bekerja, tapi bermain. Impianku untuk mengunjungi Indonesia Timur kesampaian. Berikutnya, aku percaya aku akan mengunjungi Papua!!


Next: Laut: Antara Ikan Hiu, Dolphin dan Ikan Terbang