Tuesday, March 25, 2014

Takengon: the famous (and mysterious) Gayo Coffee

Pertama kali ke Takengon itu dua tahun lalu. Kesan pertama? Ya ampuuun jauh banget yak! Karena ga ada pesawat dari Medan, jadilah kami naik mobil ke sana. Ga tanggung-tanggung 12 jam lebih! Kali berikutnya, jadi mulai terbiasa, setelah itu, jadi lebih tau banyak trik-trik apa yang harus dilakukan biar ga bosan di jalan hahaha.

Perjalanan biasanya diawali dari Medan jam 5 ke7 pagi, tergantung janjian dari kantor jam berapa. Kalo berangkat jam 7, bisa makan siang di Langsa. Biasanya kita nyampe Langsa jam 12-an. Di sana ada ayam tangkap yang enak, tepat di seberang masjid Langsa. Selanjutnya menuju Lhokseumawe, kadang kita berhenti untuk istirahat ngopi atau sekedar meluruskan kaki. Dari Lhokseumawe ini yang perjuangan banget. Masih ada 4 jam perjalanan tanpa ada sesuatu untuk disinggahi. Ga ada warung kopi asik, ada ada tepi sungai, bahkan, kalo udah lewat Juli, ga ada toilet untuk pipis! Jadi, pom bensin terakhir lewat Lhokseumawe selesaikanlah segala utang piutang, kalo ga, there is no such gas station anymore, grass station mah banyak hahahaha.

Oh, ada lagi yang menarik di dalam perjalanan: durian sodara-sodara! Hahahaha, kalo lagi musim, kita bisa liat dia bergelantung manja di poonnya. Serius, buanyak. Nah, kalo lagi musim, pondok-pondok durian bisa dijadikan altenatif membunuh kebosanan dalam perjalanan. Aku sih biasanya menolak ya, karena malah bikin ga nyaman perjalanan. Bayangin aja kita burping sepanjang jalan, mobil ac aroma durian hahaha.

Perjalanan pulang biasanya lebih asik. Selain karena yaaaa, namanya juga pulang, juga karena banyak tempat yang bisa disinggahi buat beli oleh2 hahaha. tapi ya sekali lagi itu semua setelah masuk Lhokseumawe ya. Bisa singgah beli Nagasari. Percaya atau engga, ini oleh-oleh wajib buat kantor. Lalu ada semua kripik dan pisang sale. Trus mampir di Langsa cuma buat makan sate dan martabak, percaya atau tidak lagi, satu orang bisa menghabiskan dua porsi sate dan satu porsi martabak.

Cerita tentang Takengon, Aceh Tengah dan Bener Meriah, tetangganya bisa dilihat banyak di web. Kedua kabupaten ini adalah penghasil kopi Gayo terbanyak, menyusul kabupaten Gayo Lues. Kopi Gayo adalah satu satu specialty coffee dari Indonesia yang terkenal luas di dunia. Pertama kali ke Gayo, aku cuma minum kopi karena emang suka kopi. Kali berikutnya, mulai penasaran kenapa kopi dari Gayo ini sangat terkenal ya? Kali berikutnya, mau ga mau karena berkecimpung di proyek kopi, jadi belajar banyak tentang kopi dong ya. Setelah beberapa kali minum kopi Gayo, akhirnya terjadi pergeseran selera, kopi-krimer-gula menjadi kopi-gula saja. Di beberapa tempat (yang kopinya menurutku uenaaaak) aku bahkan serasa menjadi peminum kopi betulan, hanya kopi saja. Tok!

Apa yang menarik tentang Takengon? Duingiiin. Berada di ketinggian 1000dpl, banyak orang menyebutkan Takengon sebagai negeri di awan hahahaha, agak lebay sih sebenarnya, tapi mengingat kabut dan dingin, masuk akal juga kalo disebut begitu ya.

Kayanya kota ini termasuk kota yang secara significant berkembang. Bisa dilihat dari restoran dan hotelnya hehehe. Tahun 2011, hanya ada tiga hotel yang cukup representative dan cuma ada dua restoran, yang satu lebih sering tutup daripada buka. Yaaaa, ada sih restoran lain, padang, aceh dan yang biasa kita temui di kota-kota di Indonesia pada umumnya. Maksudku restoran yang kita, para pendatang cukup familiar dengan rasanya. Jadi dulu, kalo harus travel seminggu ke sana, yang ada mati gaya urusan makan. Sekarang, lumayan. Selain masakan jawa kaya penyetan yang enak, ada restoran dengan pizza (meski harus pesan sehari sebelumnya kalo mau pizza), sate dan soto, jadi Takengon sekarang jauh lebih menyenangkaaaaan (pujian dari orang yang suka makan hahaha).

Sekarang, setelah hampir dua tahun berkecimpung di proyek yang berurusan dengan kopi, aku masih saja belum mengerti bagaimana mereka melakukan cupping. Cupping itu semacam uji kopi. Mereka akan meroasting dan menyeduh kopi di mangkuk2, lalu kita melakukan cupping. Ooooh, they don't even speak English! Apa sih artinya: earthly taste, have some watermelon taste, smoky dll itu? Please, are you guys talk in English? If yes, why I don't understand what that suppose to mean? Nyeraaaah, nyerah. Makanya kemaren aku ngerayu boss buat ikut pelatihan! Boss please dong...



Monday, March 24, 2014

Medan, when love and hate collide

Tanyakan aku tentang Medan, ketika pertama kali aku tinggal di sini, maka aku akan menjawab: benci tingkat dewa!Tanyakan aku sekarang tentang Medan, maka aku akan menjawab: I can manage. Jadi ingat lagu, when love and hate collide...

Pindah dari Jogja ke Ternate lalu ke Medan membuat jantungku berpacu tiap pagi. Betapa tidak, lalu lintas yang semrawut seakan menjadi ciri khas, tiada duanya tak pernah mati di Medan. Traffic light ga ada gunanya, karena semua berarti 'jalan', hijau berarti jalan, kuning, siap-siap berhenti (artinya tetap jalan), merah juga dipandang sebagai jalan. Jadiiii... memacu jantung setiap pagi menjelang kantor jadi santapan harianku.

Klakson, oh ini cuma saingan sama India hahaha. Kalo di India, setiap truk ada tulisannya: blow horn, atau horn, please. Artinya, silakan klakson, terutama kalo mau mendahului. Kalo di Medan? Hahahaha, klakson aja trus choooi. Lampu merah berubah hijau, udah deh tuh, semua pada klakson. Plis d, kaya orang yang di depan sana kaga liat hijau atau kaya ga mau jalan aja. Driver kantor paling sering aku omelin (makan hati kali dia kalo jalan sama aku): apa sih gunanya klakson2 kalo lagi lampu merah ke hijau? Emang semua kendaraan di depan langsung terbang apa? *ngomel* Belum lagi kalo udah macet, ya ampuuun, siap-siap d telinga penuh. Klakson di mana-mana? Oh goood, ngaruh ya kalo klakson? Bener-bener ga masuk akal.

Aku menulis blog ini setelah tinggal 5 tahun di Medan. Tadinya aku menulis 10 things I hate about Medan. Nah, setelah 5 tahun, ga nyampe ternyata 10 yak hahahaha. Sekarang apa yang aku sukai tentang Medan?

My families! Oh God, I don't know I should I do without them! Seriously! Terutama sejak aku punya anak. Keluargaku: mom, laws adalah orang-orang yang aku andalkan untuk menjaga anakku. Kalau aku keluar kota lama, dan anakku masih bayi: impor mama dari Siantar. Kalo tiba-tiba pengasuh ga ada: telp ipar yang dekat rumah untuk jaga anak. Ketika si sulung udah gede, aku harus ke luar kota, ajak pengasuh tinggal di rumah ditemani sepupuku. God, I'm so rich!

Food hahaha, lots lots lots of food. Mulai dari masakan karo, jawa, cina, melayu, padang, semua ada di sini. Satu-satunya yang aku kangeni hanyalah masakan Manado. Ada sih resto Manado di sini, tapi rasanya, serius d, mending aku yang masak hahaha.

Ada banyak lagi soalnya, tapi biar imbang jumlahnya dengan hates ya.

Thursday, April 02, 2009

Palembang, Gelap Info

Akhir tahun kemaren, Abangku mengundangku datang ke Palembang. Dengan semangat empat lima, tentu saja aku mau, aku belum pernah ke sana sebelumnya. Lagipula, akhir kontrakmemang kurencanakan untuk jalan-jalan. Aku sudah membayangkan akan banyak tempat unik yang dapat kukunjungi di sana. Palembang kan bekas ibukota kerajaan Sriwijaya. Bakal seru!!

Tak dinyana tak diduga, yang mengundang ternyata sama sekali ga punya info apapun tentang Palembang. Gubrak!! Salah satu kelemahan orang yang tinggal di satu kota ketika berstatus mahasiswa, kemungkinan besar mereka tidak tahu apapun tentang kota itu. Mahasiswa gitu, biasanya dananya terbatas untuk jalan-jalan. Aku mencoba menjembatani krisis informasi itu dengan bertanya ke Mas Google. Lha, Mas Google juga ga ngatri. Aku bertanya ke Om Jalansutra... sama juga minusnya. Ke Bibi Wiki... halah... juga ikut-ikutan.

Pait, pait, pait. Cuma ada info jembatan Ampera yang terkenal itu. That's it.

Akhirnya setelah puas bengong di tepi sungai Musi yang terkenal itu, kami pun pergi nonton. Aku sampe lupa, apa nama mall tempat kami mau nonton, yang pasti semua film Indonesia. Ohmigot. SEMUA. Wisatawan domestik kita yang satu inipun kembali kecewa.
Anyway... tidak semua mengecewakan, karena di Palembang, gudangnya makanan enak. Pempek, tentu saja. 


Mulai dari Pempek Pak Raden, Pempek bakar, pempek noni sampe pempek yang di mall aku coba. Semuanya ennnyyyaaaak. Favoritku, pempek Nonie. Thanks to Mas Say. 
Oh iya, di Jalansutra, mereka cerita tentang Mie Celor. Abangku tersayang ini, ga tau tempat yang disuggest di JS. Dan aku terlalu males untuk bertanya. Jadi kami makan mie cel
or apa aja yang ada di pinggir jalan waktu itu. Eh?! Kok enaaaak?? Gimana dengan mie celor favorit orang-orang Palembang yang ditulis di JS?

Mie celor itu mirip-mirip lo mie sebenarnya, hanya ada aroma udang dan sarat dengan bumbu oriental. Halah... pendeskripsianku yang nyontek JS sudah gagal. Intinya, mie celor itu enak. Titik.

Mie kedua, hmmmm... kwetiaw babi yang ada di dekat-dekat hotel. 

Mirip-mirip kwetiaw yang ada di Penang, berwarna coklat tua, juicy tapi tetap gurih. Biar dikata mie goreng, tapi dia rada nyemek tanpa terlihat minyak bekas menumis. Tiga hari di Palembang, aku dua kali makan di tempat ini.

Aku berencana mengunjungi Palembang lagi, lebih tepatnya Sumatera Selatan. Karena memang di kota Palembang tidak ada tempat menarik. Tapi di provinsi itu ada banyak situs-situs sejarah peninggalan Sriwijaya.
Ada yang berminat ikut?

Friday, October 10, 2008

Dodola, Kulit Terbakar dan Ubur-ubur

Selama empat hari tinggal di Dodola, bangun pagi yang pertama kami lakukan adalah langsung mengenakan pakaian renang, mengoleskan sunblock dan berjalan ke pantai. Kadang angin terlalu kencang dan terasa dingin, makan sarung pantai yang tadinya untuk gaya-gayaan sekarang untuk menutupi leher, biar ga batuk kata mama (halah!).

Meski sudah beberapa bulan tinggal di Maluku Utara, sering melihat ikan, masih aja aku berteriak setiap kali masuk ke air dan bertemu ikan. Ada banyak ikan yang serasa menemani kami berenang dan semuanya ada di buku Agi tentang ikan-ikan karang di lautan tropis. Jadi, setiap kali habis berenang, kami selalu memelototi bukunya dan sibuk menunjuk ikan yang mana saja yang ditemui. Mulai dari ikan kue, ikan strip-strip hitam kuning (ga ingat namanya) sampe lion fish. Pagi hari ketiga, aku bahkan menemukan bangkai anak penyu hijau di pantai. Sedih melihatnya. Sorenya kami bertanya ke Om Jony dan dia bilang, beberapa waktu yang lalu penyu sering bertelu di tempat itu. Dan banyak masyarakat sekitar datang lalu mengambil telurnya.

Bicara pelestarian hewan-hewan cantik dan terancam punah itu di sana membuat aku rada nyesek. Sambil memandang bintang yang sangat banyak dan sangat terang (mungkin karena tidak ada lampu di pondok) kami masih mendiskusikan penyu, kepiting kenari dan ikan pari. Rasanya mendiskusikan hewan-hewan yang terancam punah sangat kontras dengan manisnya malam. Apalagi ketika kami disuguhi ikan bakar yang manis dan nikmat. Seger dengan dabu-dabu. Sayur yang langka di pulau ini tiba-tiba ada di meja makan karena Om Jony baru belanja di Morotai. Sambil makan, aku jadi ingat, siang tadi beberapa kali kami mendengar bunyi bom. Ya, benar banyak nelayan masih menggunakan bom untuk menangkap ikan. Mudah-mudahan ikan yang sedang aku kunyah tidak ditangkap dengan bom. Tidak heran kalo selama berenang, disamping ikan yang cantik, kami juga masih melihat sisa-sisa karang bekas bom. Aku ingat beberapa bulan lalu waktu ke Pulau Maitara, semua karang sudah tidak tersisa. padahal kata Agi kunjungannya tahun lalu, karang dan ikannya masih banyak. Habis karena bom tentu saja. Indonesiaku... kapan alam indahnya bisa dipelihara?

Beberapa kecelakaan tetap saja terjadi. Dihari kedua, kulitku rasanya panas sekali. Meski sudah mengoleskan sun block sebelum keluar rumah ditambah mengoleskan krim lidah buayanya Agi setelah mandi sore, tetap saja panas sampai hari berikutnya. Terbakar... terkelupas dan belang di sana sini. Uuuh... hitam aja ga jadi masalah, secara temanku pernah bilang aku lebih seksi dengan kulit gelap (ehem), tapi aku paling ga tahan liat kulit yang terkelupas. Hiks. Anyway... kulit yang terkelupas sama sekali tidak mengurangi jatah mandi di laut. Teteuuuup.

Mas Imam berbaik hati mengantar kami ke pulau Koloray, pulau sebelah Dodola. Karang di sana... astaga... cantik!! Lautnya sangat-sangat dangkal, beberapa kali katiting menabrak karang. Akhirnya Mas Imam turun dan berjalan kaki sambil menuntun (? aku tidak menemukan kata yang tepat) katinting. Kami sibuk memandang ikan dan karang sambil membantu pak nelayan mencari kerang (yang nemu sudah pasti Agi).

Pengalaman terkena ubur-ubur baru pertama kali kualami. Tiba-tiba saja, ketika kami berenang di pulau dua (dua pulau sangat kecil yang berdekatan dalam perjalanan kembali ke Daruba-Morotai) aku merasa sengatan yang sangat banyak di sekitar tangan dan wajahku. Berkali-kali sampe berteriak panik. Lebih karena panik dan takut, akhirnya aku berenang ke tepi. Di darat, Agi langsung konfirmasi kalo tadi memang ubur-ubur. Banyak sekali. Huuuaaa... Setelah sakitnya agak berkurang, kembali berenang lagi yuuuuk.

Pertualangan berikutnya sama menariknya. Kami benar-benar bertemu ikan pari kecil di Pulau Dua. Seperti anak kecil kami lari-lari ke Om Jony... Oooom... tadi kita ngeliat ikan pari. Oh ya? katanya tenang, kok ga ditangkap? dia ngeledek. Yeeee...

Pertualangan manis akhirnya berakhir setelah empat hari di Dodola. Sehari setelah Lebaran Om Jony mengantar kami kembali ke Morotai. Hiks... kok sedih ya. Pertualangan ditutup manis dengan mampir ke Pulau Zum Zum, melihat gua McArthur lalu untuk pertama kali bertemu ular laut. Kyyyaaaa... aku langsung membatalkan niat berenang di pulau itu. No way!!

Panas matahari menemani kami mengitari pulau-pulau di sekitar dalam perjalanan pulang. Melewati Pulau Dua... mesin mati!! Selamat... sekeras apapun Om Jony mencoba tetap tidak bisa. Maka... MARI KITA MENDAYUNG sodara-sodara. Empat kilometer!! Tentu saja Om Jony yang mendayung lebih banyak, kita mah sibuk mendayung (pake fin wekekeke) sambil tetap sibuk memandang karang, ikan dan ubur2 yang berseliweran kaya konvoi. Such a nice trip. Seperti kata McArthur: I shall be back!!

Tuesday, October 07, 2008

Morotai dan Dodola

Yep! Bangun pagi setelah membeli perlengkapan perjalanan ke Dodola, Om Jony datang menjemput. Oh iya, aku kenalkan dulu ya si bapak satu ini. Dia Belanda-Ambon yang punya usaha di pembiakan rumput laut di Dodola. Kami akan tinggal di tempatnya semalam, karena harus kembali ke Tobelo untuk melihat upacara adat perkawinan. Om Jony meminta temannya menjemput kami di Daruba karena dia baru akan menyusul sorenya ke Dodola.

Kami naik katinting, perahu kecil dengan mesin sekitar 5PK dan paling banyak sanggup menampung 5 orang. Katinting di sini cukup aman, karena mempunya semacam 'sayap', bambu yang diikat di kiri dan kanan perahu untuk menjamin keseimbangannya. "Tolong bantu E untuk mengeluarkan air dari katinting ya Mbak," pesan beliau sebelum kami meninggalkan dermaga Daruba. Kadang-kadang, air masuk ke katinting, untuk mengurangi beban (dan biar ga karam), air harus diciduk keluar.

E mulai mengarahkan katinting ke arah barat. Beruntung aku duduk di depan, jadi aku bisa melihat bebas pulau-pulau yang kami lewati. Pulau pertama berpasir putih yang kami lewati, aku bisa melihat pantai yang tidak luas dan kapal tertambat di sana, selebihnya masih dipenuhi hutan bakau. Mudah-mudahan bukan Dodola, bisikku dalam hati. Ga seru aja berenang dekat hutan bakau. Aku sering membayangkan ular di sana. Kapal melewati pulau itu, syukurlah. Di tengah perjalanan banyak burung-burung yang terbang lalu hinggap di kayu-kayu yang mengapung. Kemudian kami mulai melihat lagi... lebih banyak burung, kali ini terbang rendah di laut dan sibuk mematuk sana sini. Pasti ada ikan, kata Agi. Pelan-pelan katinting menuju ke arah burung-burung itu. Benar saja. Cakalang!! Lompat-lompat keluar dari air. Cakalang. Bener-bener cakalang yang kemaren aku liat di Sofifi. Huuuuiiiiih... aduuuh penyakit anak gunung yang liat laut ya begini neh.

Melewati dua pulau kecil... aku bertanya pada E, apa nama pulaunya. Pulau dua katanya. Trus... di mana pulau Dodola itu? Masih belum keliatan katanya tersenyum. Mungkin dalam hati dia mikir, nih orang bertiga, udah tiap liat ikan teriak-teriak... liat burung ribut... apalagi liat karang... bawaannya pengen nyebur semua. Mungkin dia mikir kita orang aneh. Ga heran.

Melewati pulau dua... rasanya lautan itu dengan sengaja ditaburi karang-karang yang berwarna-warni. Terumbu karang. Karena katinting melaju, kami tidak bisa melihat ikan, tetapi bisa dipastikan karangnya cantik. Aku melihat Agi dengan mupeng pengen langsung nyebur. Pulau berikutnya yang kami lewati... cantik luar biasa. Kapal-kapal kecil yang dipantai dicat putih contras dengan pepohonan hijau. Itu pulau Koloray... kata E. Hmmm... aku ga akan lupa, seperti kudoray. Tadinya aku berharap itu pulau Dodola. Soalnya cantik sih.

E kemudian menunjuk pulau Dodola di sebelahnya. Wah... not bad pikirku. Gi... ada pulau di sampingnya, kayanya ga terlalu jauh. Besok kita bisa berenang dari Dodola ke pulau itu kataku. Itu namanya Dodola Besar, kata E lagi. Oh ok. Namun ketika katinting mendekati pulau itu... aku bisa melihat pasir putih yang menghubungkan kedua pulau. Gubrak!! Tidak perlu berenang. Jalan ajah. Sekeliling pulau terhampar pasir putih... penghubung kedua pulau, juga pasir putih. Bisa kupastikan kalo pasang naik, kedua pulau akan terpisah... still masih bisa jalan kaki. We-e-e-e... pulau Dodola emang cantik.

Kapal merapat ke pantai. Kami masuk dan melihat pondok di dalamnya. Ada tiga pondok, dua tempat istirahat dan menjemur jaring ikan, pondok di belakang untuk tempat makan. Ehem... kenapa aku merasa bakal betah di sini ya... hehehe. Begitu meletakkan barang-barang dan istirahat, kami langsung berganti pakaian dan berenaaaaaang... huehehehe... Akhirnya tercapai keinginan berjalan menyusuri pantai dari Dodola kecil ke Dodola besar. Aku tidak sanggup menahan teriakanku setiap kali aku melihat ikan di laut.

Rasanya kami berenang selama berjam-jam, tapi masih saja belum puas. Berenangnya sih ga cape... jalan dari dodola besar ke kecil bolak balik itu yang bikin cape. Menjelang sore, kami kembali ke pondok. Si Mas sudah menyiapkan air di ember untuk kami mandi. Dia harus mengambil air tawar di dodola besar, jauh dari pondok, dengan menggunakan katinting. Aku dan Agi berhasil mandi seember berdua, keramas dan mencuci pakaian renang. Boleh ga percaya, tapi kami punya teknik menghemat air yang bahkan shower pun tidak sanggup mengimbanginya.

Menikmati senja di katinting dan sampan kecil di samping pondok. Buku Eat Pray Love-nya Liz Gilbert kok terasa pas dalam suasana begini. Sekali-kali aku memainkan kakiku di pasir yang putih dan lembut. Rasanya tenaaaaang banget. Eh lupa bilang, di pulau ini, cuma ada kami dan 3 orang yang tinggal di pondok. Tidak ada orang lain. Koloray, desa terdekat berpenduduk cukup banyak, sekitar 100-an orang katanya. Aku mencoba mengingat-ingat, apa yang hilang dari tempat ini ya? Oh iya... ga ada deru motor yang ngebut-ngebut di tengah jalan, ga ada teriakan-terikan nonton bola di pangkalan ojek dan ga ada suara-suara lagu India dari tetangga kosku. Suatu kehilangan yang membahagiakan.

Monday, October 06, 2008

Serial Liburan - Menuju Morotai

Apa yang akan aku lakukan liburan lebaran ini di Maluku Utara? Pulang, jelas sangat mahal, lagipula November kontrak akan selesai, so masa pulang terus dalam waktu 2 bulan? Ke Manado? Icie sedang ada di Bogor, jadi tidak mungkin. Makasar? Uuuuh... ga d, masa nungguin Ime jaga di rumah sakit? So, ketika Agi bilang dia mau liburan di Morotai... langsung aku jawab: count me in, Gi!!

Mencari info tentang Morotai susahnya setengah mati. Cuma dapat sedikit. Plus, temen-teman kantor pada bilang 'ga bagus', 'sia-sia' dan semua kata-kata discouraging lainnya. Satu-satunya yang cukup netral cuma dari seorang teman yang menyebut dirinya putra kolano cico, dia bilang 'panas, tapi pulau-pulau di sekitarnya cantik' dia juga bilang 'banyak peninggalan PD II di sana' dia bahkan berbaik hati menggambar dan mencari info penginapan di sana. Thanks ya Pak!!

Berangkat pagi-pagi jam 6 menuju pelabuhan Kota Baru dengan ojek dari kos2an naik speed boat menuju Sofifi-Halmahera. "Yang lima puluh yang lima puluh, dua orang lagi berangkat," begitu kira-kira abang boatnya teriak di pagi yang sudah ada mataharinya hehe. Maka kami berdua langsung naik dan duduk manis dengan bagpack dan tentu saja: life jacket! (maaf harus mengikuti safety prosedure kantor... yeee).

Di tengah jalan, eh bukan di tengah laut, tiba-tiba, Nia temenku terkesiap, cukup kaget dan mengagetkan semua penumpang lain. Ada apa? tanyaku. Hmmm... ga yakin hiu atau lumba-lumba, katanya, sebelah sana. Aku melihat: itu ombaaaaak buuu. Jadi ingat pengalamanku beberapa bulan lalu di Sulamadaha, salah menerjemahkan si lumba-lumba dengan hiu. Kami memandang lama ke arah itu, astagaaa, bener aja. LUMBA-LUMBA sodara-sodara. Buanyak. Melompat riang berkali-kali seakan mengikuti boat kami. Edaaaaan... beberapa bulan tinggal di Ternate, memutari Sulamadaha dan pulau2 lain, aku tidak pernah bertemu mereka. Kali ini... mereka berkali-kali melompat. Well, that's a good sign for our vacation, kataku dalam hati.

Tiba di Sofifi, abang-abang pemilik kendaraan yang akan mengangkut kami ke Tobelo sudah menunggu dan dengan sigap mengangkut barang-barang kami ke mobilnya. Masalahnya, sama saja, karena kami tetap harus menunggu kendaraan penuh. Sambil menunggu aku sempat mengamati para pedagang di dekat pelabuhan. Ikan-ikan kecil sampe besar dipajang, aku yakin masih sangat segar. Seorang ibu sibuk memotong ikan tongkol yang buesar menjadi potongan-potongan kecil. Pasti pisaunya tajam sekali. Aku melihat ikan-ikan teri yang lumayan besar, lalu teringat dulu di Aceh, ibunya temanku pernah memasak ikan itu dengan digoreng tepung. Liurku menitik. Pasti enak. Akhirnya mobil berangkat juga ke Tobelo. Butuh waktu 4 jam di jalan, termasuk istirahat sebentar di Malifut. Seratus ribu kurang sepuluh ribu rasanya cukup masuk akal, karena kenyamanan dan keramahan bang supir. Kapal ke morotai akan berangkat sore nanti, kata Agi yang sudah tiba lebih dulu di Tobelo. Hmmm... kita bisa istirahat di rumah Tini. Tebak hidangan makan siang apa yang dihidangkannya? Di samping sup kepala ikan yang segar, dia juga menghidangkan ikan teri goreng tepung. Olala... impian jadi kenyataan. Tidur-tiduran bentar, sorenya Tini udah manggil lagi... dia nyonya rumah yang luar biasa. Minum teh sore, katanya. Tentu saja kami tak dapat menolah makan pisang mulut bebek dengan sambel, kacang... astaga... kenapa ga bisa berenti ngunyah siiiy?

Jam 6 sore kapal berangkat ke Morotai. Naluri staff Disaster Risk Reduction kita langsung bunyi pas liat Tsunami Early Warning System yang ada di pelabuhan... eh... ada TEWS kita menunjukkan dan mencoba mencari peralatan pengukur pasangnya. Menarik... menarik...

Dua kali kapal berhenti di tengah laut. Penasaran aku dan temenku melihat apa yang membuatnya berhenti. Ternyata... ada calon penumpang yang menyusul dengan speed. Jadi ingat bis kota hehehe. Jam sembilan malam, setelah mengalami mabok laut (ombak rada kencang, bau bensin dan juga panas mesin di sekitar tempat duduk) akhirnya kami tiba di Morotai. Om Jony, yang akan menemani perjalanan kami mengantarkan kami ke penginapan yang ehem... panas... banyak nyamuk dan juga kamar mandi rombongan. Well, it could be worst anyway... nikmati saja, bukankah si lumba-lumba udah mencerahkan pagi ini? So.. abis mandi dan makan malam di warung seafood dekat penginapan, kami tidur. Perjalanan seru ke Dodola akan di mulai besok. Get ready!!

Friday, September 26, 2008

Benteng Toloko - Ternate

Ada banyak benteng di Ternate, sisa-sisa kolonialis baik Portugis maupun Belanda. Salah satunya benteng Toloko atau benteng Tolukko. Dibangun tahun 1512 oleh Governor Jeneral Fransisco Serral dari Portugis. Tahun berdirinya benteng ini sendiri banyak referensi memberikan tahun yang berbeda, tapi kita pake data lonely planet aja ya, didirikan tahun 1512 dan direnovasi oleh Belanda tahun 1610.

Dari luar, sekilas benteng ini terlihat kecil, waktu pertama aku datang, Tolukko tidak seperti benteng yang selama ini aku liat di film atau seperti benteng yang didirikan prior Philip dan Richard dalam novelnya Ken Follet, The Pillar of the Earth. Apalagi, renovasi yang dilakukan baru-baru ini membuat si benteng kehilangan 'keangkuhan' dan 'kekuatannya'. Bagaimana tidak, dari luar, aku melihatnya seperti taman bunga. Lebih cenderung cantik, dibanding gagah. Tanaman-tanaman bunga dan jalan setapak yang disemen. Cantik banget d pokoknya. Di samping gerbang masuk benteng, ada ruangan kecil, tempat informasi benteng ditempelkan. Jangan berharap seperti di Jogja, di mana setiap kali kita mengunjungi tempat sejarah selalu ada guide yang 'membuai' kita dengan cerita dibalik tempat itu. Di sini, cukup baca informasi yang banyak, yang begitu keluar pintu dijamin lupa hehehe.

Kesan sangarnya baru keliahatan kalo kita udah masuk ke dalam. Banyak ruangan-ruangan yang kalo dipikir-pikir jadi mirip labirin, karena ada ruangan di balik ruangan, lorong di balik lorong. Masuk ke dalam benteng, kita akan bertemu lorong panjang, tangga yang tidak terlalu curam, tapi rada seram karena ga ada pembatas tangga, so kalo jatuh, ya langsung ke bawah. Aku mencoba membayangkan orang-orang dulu, bagaimana cara mereka lari ke sana ke mari dengan cepat tanpa harus terjatuh. Agak turun ke bawah, ada ruangan kecil, bahkan untukku, aku masih harus menunduk untuk masuk. Tempat apa ini? tanyaku. Mungkin tempat penyiksaan, kata temanku. Heeee??? Sejak kapan di benteng ada tempat penyiksaan? Bukannya harusnya itu tempat bertahan? Lagipula, kalau aku jadi prajurit, akan sangat sulit menyiksa orang di ruangan sekecil dan serendah itu. Ga masuk akal. Later, ketika aku kembali ke kantor, temanku bilang itu tempat penyimpanan senjata. Okay... it is much much reasonable.

Naik ke atas, aku dengan bebas bisa memandang pulau Tidore, puluhan rumah di seputaran Dufa-Dufa, swering dan tentu saja... Gamalama. Siang itu dia rada sombong, terlalu banyak kabut. Tapi, aku jadi mengerti kenapa benteng dibangun di sini. Kamu bisa melihat hampir sekeliling Ternate dan juga Tidore dari sini. Aku membayangkan Potugis dan Belanda bisa dengan cepat melihat bila ada serangan. Atau... aku bisa membayangkan seorang putri bisa cepat melihat ketika sang pangeran sudah kembali. Halah!! Norak!!

Anyway... terlepas dari bagian luar yang terlalu manis, duduk di tempat ini membuat kamu bisa melihat semuanya. Merasa sangat tinggi (hihihihi) dan juga sangat kecil... karena kamu bisa melihat banyak tempat tentu saja. Seandainya ada seseorang yang bisa bercerita banyak kisah-kisah menarik seputar benteng itu...

Friday, August 08, 2008

Tempat yang Ingin Kukunjungi Berdua

Ada beberapa tempat yang pernah aku kunjungi bersama teman-teman, yang kemudian ingin aku kunjungi bersama seseorang yang sangat aku sayang. Well, bukan berarti aku sudah menemukannya sekarang. Dulu kukira aku sudah menemukannya, ternyata, seperti kata orang, kadang-kadang kita emang salah menilai orang. Anyway... satu saat, aku pasti akan bertemu dengan dia. Meanwhile, aku mau menceritakan tempat yang pernah aku kunjungi dan yang kemudian aku ingin kunjungi lagi.

Menyusuri sungai yang aku lupa namanya di Bangkok. Dengan perahu yang kamu bisa makan malam di dalamnya, dan setelah itu kamu bisa duduk di bagian luar perahu, dan kalau cukup gila bisa melakukan adegan Titanic antara Jack and Kate (eh,.. siapa nama cewenya itu?). Aku melakukannya (naik perahu maksudku) bersama teman-teman beberapa minggu yang lalu. Menarik. Kamu bisa memandang bintang karena lampu tidak terlalu terang. Di kiri dan di kanan sungai, ada banyak bangunan yang pasti membuat kamu terkagum-kagum. Budha temple dengan gaya Thailand yang kental, bagunan hotel atau cafe yang cahayanya sangat kontra
s dengan kegelapan di tengah sungai. Sesaat aku lupa kalau mereka membangun di daerah aliran sungai. Mudah-mudahan luapan sungai tidak membuat banjir seperti di Jakarta.

Tempat kedua yang masih ingin aku kunjungi adalah... Wedi Ombo!! Menghabiskan malam dengan api unggun dan permainan yang menarik, selalu membuatku ingin ke sana lagi. Kali ini, tentu saja dengan seseorang, bukan dengan banyak orang hehehe. Di sini, karena sinar lampu dari kampung sekitar yang termaram membuatmu bisa melihat bintang di langit dengan jelas. Amat jelas. Termasuk menunggu datangnya bintang jatuh. Ditemani suara ombak, bikin suasana jadi terasa tenang dan sendu (halah!). Kalo berdua, aku pasti akan duduk dan memandangi langit, sambil makan ikan bakar (teteeeuuup ada makannya) pasti asik!

Tempat ketiga: Kedai Kopi di Gejayan, Jogja. Ga punya fotonya, liat aja blognya Tita.

Sementara sih masih itu...

Wednesday, April 02, 2008

Serial Jogja-Mbatik

Rasanya ada yang kurang kalau tinggal di Jogja lebih dari setahun tetapi aku tidak mencoba membatik. Apalagi banyak orang bukan Indonesia yang sekarang bisa membatik. Plus, aku ga suka kalo orang besok-besok bilang batik bukan dari Indonesia terbukti karena tidak ada orang Indonesia yang suka batik. Alasan lain, suka pake batik... kenapa ga coba bikin desain sendiri?

Maka berangkatlah kami ke tempat kursus batiknya temenku di Imogiri. Pak Guru yang baik hati itu, dipanggil temennya dengan ****cacing (4 huruf pertama aku hilangkan hehe). Membuat batik ternyata tidak semudah yang kami bayangkan. Padahal sebelumnya aku sudah tahu kalo bikin batik itu susah, pas dilakoni, ternyata lebih susah!! Dia menceritakan proses membuat batik dan mengijinkan kami melihat seorang ibu yang sedang membuat pola dengan malam.

Selanjutnya, kami diajari membuat pola yang kami inginkan terlebih dulu. Kebanyakan kami menggambar (atau menjiplak) bunga, atau motif batik standard lainnya, seperti kawung. Ibenk, temen kita malah membuat alien, katanya ini desain batik modern. Ga salah kok, kata gurunya.

Langkah berikutnya adalah menimpa pola yang sudah kami buat dengan malam atau lilin. Prinsipnya, malam akan mencegah serat kain dalam menyerap warna. Sehingga bagian yang diberi malam tidak akan berubaah warna meski nanti dicelup warna. Bagian ini luar biasa susah. Rasanya pengen nangis waktu melakukannya. Malam itu panas. Biar ga terlalu encer, kudu ditiup. Kalau sudah beku, dia ga akan mengalir, cantingnya akan tersumbat. Kalau memegang cantingnya terlalu ke bawah, malamnya bisa jatuh dan menodai kain yang tadi sudah diberi pola, sehingga membuat pola baru. Aku jadi mengerti mengapa batik tulis itu suka ga sama gambarnya, selain karena proses menggambar, juga karena kadang-kadang 'kecelakaan' jatuhnya malam akan mempengaruhi pola gambar. Nah, sebagai pemula, 'kecelakaan' malam yang kualami jauh lebih sering dari yang seharusnya.

Kelelahan dengan proses malam itu, kami membiarkan proses pewarnaannya pada ahlinya, sambil kami menikmati makan siang yang luar biasa pedas dan enak hehehe. Ternyata, hasil yang tadinya kami kira akan hancur-hancuran, lumayan juga. Ga bagus, tapi lumayan untuk pemula. Ini kembali memompa semangat kami untuk membuat desain sendiri. Membatik emang susah, tapi kalo serius, semua orang bisa melakukannya. Lihat saja hasil karya kami.

Tuesday, April 01, 2008

Mbah Merapi Pagi ini

Mbah Merapi pagi ini, berdiri malu-malu
ga cerah seperti biasanya, sedikit berkabut
tapi terlihat semuanya. Jadi seperti warna hijau pupus
murung, tapi mencoba tersenyum.

Mbah Merapi pagi ini,
ditemani awan putih, menggantung setengah
malu-malu
tapi tetap terlihat,
mirip gadis remaja yang sedang digoda kecengannya

Mbah Merapi pagi ini,
seperti yang aku lihat minggu lalu,
berdiri kekar, tegas dan sombong
tapi juga murung...

Rasa sedih tiba-tiba hinggap di hatiku,
lebih setahun yang lalu, waktu aku pindah ke sini
aku berdoa, "Tuhan, biarlah Jogja menjadi tempat perhentianku,
biarlah ini menjadi rumahku. Karena aku yakin aku pasti akan menyukai Jogja."
Ketika akhirnya aku tinggal di sini, aku mencintai Jogja
aku berharap aku bisa tinggal di sini
menatap Mbah Merapi dengan semua mood yang dia punya.

Yang sombong, gagah, atau kadang malu-malu
atau yang ngambek, sembunyi dari semua orang
meski ketika aku mendekatinya.
Rasanya aku punya banyak list mood si mbah dalam setahun ini.

Mbah Merapi pagi ini...
tersenyum tulus, tetapi tidak lebar
Apakah dia sedang mengatakan, "Kita akan bertemu lagi,"
atau dia sedang bilang, "Di sana kamu juga akan senang kok,"
atau mungkin, "Kamu akan tetap di sini, percayalah."

Mbah Merapi pagi ini,
aku percaya yang terbaiklah yang terjadi untukku.

Wednesday, March 19, 2008

NM-Food

Mari kita bercerita tentang makanan!! Sayangnya aku hanya punya beberapa foto makanan khas sana. Ada beberapa makanan yang menarik di sana, salah satunya makan singkong dan pisang pake sambel. Di salah satu sekolah kita disuguhi singkong mentega dengan sambel yang berasa banget plus ikan teri yang digoreng kering.

Sekarang, aku mau cerita tentang Gohu. Makanan ini berbahan dasar ikan mentah tanpa dimasak (ya iyalah, makanya mentah), dicampur dengan bumbu-bumbu sederhana (bawang, cabe, kemangi) termasuk jeruk (kayanya) tapi malah membuat makanan ini luar biasa enak dan sangat-sangat... ngangeni. Ikan segar itu dipotong kecil-kecil, trus dicampur bumbu-bumbu tadi (seandainya Tita ikut, aku yakin makanan ini akan masuk blog heavenly and glorious food-nya). Rasa ikannya sangat juicy tapi juga kenyal, gurih dan beraroma segar.
Makan di North Maluku membuat aku berfikir: orang-orang di sini sangat sadar apa yang disebut dengan diversifikasi pangan. Makanan yang mengandung karbohidrat tidak hanya berupa nasi, tetapi juga pisang rebus, singkong, sukun (breadfruit) dan sagu. Sayang banget waktu itu aku ga kebagian papeda. Well, setidaknya itu jadi tanda kalo aku akan balik lagi ke sana hehehe.

Sagu dimakan dengan semacam gulai ikan yang spicy banget. Aku dan temanku sibuk mencoba semua jenis karbohidrat itu bersama semua jenis sayuran dan ikan-ikan yang ada. Pesta! Mencoba makan gohu dengan singkong yang sangat menggoda: berwarna kuning, berlemak (karena dikukus dengan santan) dan sangat-sangat gurih. Makan gohu dengan pisang dicampur dengan daun pepaya, makan lagi pisang yang lain dan sukun dicampur ini dan itu. Mari kita bereksperimen.

Jam makan di Tidore jadi lebih lama dari yang direncanakan. Biar dikata di sekolah kita udah dijamu dengan singkong, sambel dan teri kering, rasanya perut ini berubah amat sangat luas, bisa menampung apa saja yang dihidangkan. Ikan bakar dengan irisan bawang, tomat dan cabe yang sangat mengundang liur masih nongkrong di depan kita, kasian kalo dianggurin. Teman-teman dari meja satu mulai berkelana ke meja lain, mencari gohu yang masih nganggur. Siang itu, gohu emang menjadi primadona kita. Semua puas, pada lahap, sampe ada pake menjilat jari segala gitu!

NM-New (Crazy) Friends

Mari kita list satu persatu temen-temen baruku ini, demi menjaga privasi mereka, nama aslinya tidak akan aku sebutkan. Kasian kalau sampai para jurnalis mendatangi mereka meminta konfirmasi. Aku sangat beruntung karena temen-temen baru ini sama gilanya denganku (atau lebih gila?)

Ibu (bukan berarti dia sudah menikah) yang satu ini (bayangkan suaraku kaya suara penyiar di acara Berpacu dalam Melody) berasal dari tanah Pasundan dengan aksen Parahiyangan yang mani kental pisan. Lucu rasanya punya temen sekamar yang hampir mirip, mulai dari potongan rambut, badan, tas sampe sama-sama pake braces!

Nah, Bapak yang juga belum menikah ini, menjungkirbalikkan kesan pertama yang ditampilkannya dulu di kantor Jogja. Aku sama sekali tidak menyangka dia ternyata makhluk gokil, jago dangdut (terbukti dia menyanyi di acaranya pak boss malam itu) dan banci kamera! Aku paling suka menggodanya dengan aksen Tegalnya. Aslinya mana Mas? Tegal. Dia punya pasangan yang tak terpisahkan sampe sekarang sekamar di kost. Akan ada cerita tentangnya di serial berikutnya.
Mungkin karena sama-sama punya logat yang berbau banyumasan, cowo yang satu ini dekat dengan pria yang sebelumnya aku sebutkan. Cowo yang posturnya lumayan bagus (lumayan doang lho Ji!) ini cukup lucu. Dan sangat menyukai anak-anak, pintar dalam menjelaskan kepada orang tua dan juga... suka dangdut. God, kenapa orang-orang kantor sini semua terkontaminasi dengan dangdut ya? Hahahaha... tapi seru juga sih. Meski gila, dia sangat perhatian, apalagi pada temenku yang berikut ini:

Nona paling berisik, paling seru, paling heboh di kantor mungkin tepat untuknya. Mungkin karena hebohnya itu makanya anak-anak selalu menyukai ketika dia memfasilitasi kelompok anak. Paling asik jalan dengannya karena tidak peduli dengan kulit yang menghitam setelah berenang di pantai. Teriakannya booook... dia mengingatkanku pada temen2ku di Jogja, heboh, gila, suka dangdut dan suka makan!! Aku selalu suka teman seperti ini hahaha.

Satu lagi yang sama gilanya, cewe Batak-Jawa yang luar biasa radarnya kalo ada kamera. Langsung gaya. Ga peduli sedang apa. Ga peduli suasana apa. Dan menderita penyakit sirik akut ketika dia hanya kebagian sedikit kelompok anak, karena dia emang tergila-gila dengan anak-anak. Selalu senang bermain bersama mereka. Sampai-sampai di satu sekolah, dia dikebuti seperti gula dikerubuti semut. Hihihi... lucu juga kalo ingat dia bisa trauma dengan anak-anak saat ini.

Masih banyak yang seru dari teman-teman yang aku temui, seorang bapak yang sangat-sangat menyukai sejarah dan membuatku yang tidak suka sejarah jadi sering bertanya-tanya padanya, temen dari Myanmar yang serasa udah kenal lama, bapak advisor yang sangat humble dan menyenangkan, pak koordinator yang gila rhoma irama dan iyet bustami, pak koordinator satunya yang punya anak kaya kembarannya sendiri, pak deputy dengan lidah menjulur dan mata melototnya, yang membuatku melayangkan banyak pukulan ke badannya karena kaget atau bahkan pak boss yang suka melucu sampai satu-satunya temen perempuanku yang ga suka difoto, membuatku sangat menikmati kebersamaan dengan mereka.

Teman... selalu membuat kita lebih kaya dari sebelumnya. Thanks ya!!

Tuesday, March 18, 2008

NM-It's all about children!!

Datang ke NM bukan untuk jalan-jalan, tapi untuk maen2 sama anak-anak hehehe. Tiba-tiba saja, dari 12 kelompok anak yang akan diajak diskusi, aku terlibat dengan 10 diantaranya. Entah angin mana yang membuat mereka meyakinkan anak-anak mereka untuk berdiskusi denganku. Tetap aja itu suatu hal yang menyenangkan, soalnya... main sama anak-anak SD kan selalu seru. Lagipula, laporan akhirnya lebih simple. Cuma scoring!!

Yang juga seru adalah gimana biar bisa menarik perhatian mereka. Termasuk bersuara kencang. Suatu kali, aku dan Etty harus berdiskusi dengan 29 anak yang akhirnya kami bagi menjadi 17 dan 12 dalam satu kelas. God!! May bilang kami berdua seperti sedang adu vokal, kencang2an suara. Juga lomba kucur-kucuran keringat!!

Gimana engga, kelas itu kecil, gerah, ada 29 anak dalam satu kelas. Belum lagi, anak-anak di luar semua mendorong ingin masuk dan bermain. Fuuuuiiiih... Tapi seru aja sih maen sama anak-anak itu, apalagi kalo mereka bisa ngakak karena lelucon or karena permainan yang kita ajarkan.

Ga tau karena mereka jarang bertemu dengan orang dewasa yang mau diajak main dengan mereka, atau karena sebagian dari kami emang punya tampang artis (dilarang muntah) atau karena gantian mereka yang ingin menyenangkan kami, di sebagian besar sekolah, terutama pulau yang lebih kecil, selalu meminta tanda tangan kami untuk kenang-kenangan, ngajak kenalan atau sibuk memandangi kami. Yang terakhir kucurigai lebih karena mereka takjub (ngeri?) melihat braces-ku hehehe. Apapun itu, kami selalu mengambil positifnya: kami serasa artis yang berkunjung ke sekolah!

Anak-anak, di manapun itu, selalu menyenangkan!! Kecuali kalau mereka mulai beringas ketika permainan dihentikan. Salah satu temenku bilang dia kapok karena anak itu saling dorong, saling sikut dan saling teriak untuk menarik perhatiannya. Well, at least dia bisa merasakan apa yang dirasakan artis ngetop selama ini dong. Ya ga Don?

NM-Shark-Dolphin and Flying Fish

Ceritanya setelah bekerja seminggu penuh, termasuk hari libur, hari minggu pak boss ngajak kita ke pulau Maitara. Pulau Kecil di antara Ternate dan Tidore. Dengan naik speed boat dalam waktu 10 menit, kita langsung nyungsep di pulau itu. Dua cowo dan 5 cewe akhirnya siap menghitamkan kulitnya di pulau itu. Catatan, dua dari 5 cewe itu ga bisa berenang. The good news is, 5 lainnya bisa dan 2 cewe itu super duper percaya diri. Berjanji tidak akan panik kalau tenggelam.

Setelah sibuk nyelam sana nyelam sini, lebih tepatnya masuk air keluar air tanpa berenang (aku) dan berenang (semua selain Pak John and May), akhirnya rombongan memutuskan untuk mengitari pulau dengan perahu katinting (perahu kecil dengan menggunakan dayung dan atau mesin 5.5pK). Di perjalanan, Susi menjatuhkan kacamatanya, demi solidaritas (baca: keinginan untuk berenang di tengah laut yang tidak terlalu dangkal) semuanya terjun ke laut. Semua. Termasuk dua cewe yang ga bisa berenang itu kekeke.

Berpengangan pada perahu, aku sibuk menggerak-gerakkan kakiku di bawah. Eh... kok aku malah masuk ke bawah perahu siiiy? Bluuurrrrp. Tenang... tenang... Jangan panik. Pelan-pelan bisa ngambang lagi. Biar kedua makhluk sok pede itu bisa dimonitor bersama, maka Kevin dan Pak John membawaku (dalam arti yang sebenar-benarnya: mereka menuntunku dalam air supaya aku sampai ke perahu satunya) bergabung dengan May. Asik kan? Biar ga bisa berenang, tetap aja aku pede nyebur ke laut dan melihat ikan2 cantik itu di bawah kakiku. Keren banget tauuuuk! Perjalanan kita lanjutkan. Sambil naik perahu (2 perahu karena ga cukup) aku mulai dag dig dug berdoa dalam hati, berharap bertemu si cantik dolphin. Ketika di depan sana ada yang melompat dari air aku langsung teriak: doplhiiiiin!!
Semua menoleh. Serius lu? Serius, aku teriak. I saw doplhin!! Sumpah!! Oh my God!! kataku dengan semangat Sumpah Pemuda. Hampir aja Kevin nyebur lagi ke air, kalau si pemilik perahu tidak mengatakan: itu bukan dolphin, itu hiu. Gubrak!! Well, ya maap, aku kan anak gunung, semua yang melompat dari laut selalu kuanggap dolphin kataku tanpa merasa malu. Pun, teriakanku masih sama nyaring ketika melihat taburan star fish di bawah perahu. Cantiiiiik!!

Aku ga pernah kapok kok. Perjalanan dari pulau lain di daerah Halmahera Selatan aku duduk di atap speed boat. Di atap. Masih punya harapan yang sama. Come on, come on. Muncullah. Ketika aku melihat ke belakang, aku berteriak: Flying Fisssssshhhh!! Pak John melihat dan bilang, oh ya, flying fish. Oh my God, aku melihat flying fish. Pertama kali, bukan flying fish yang di Indosiar!! Aku teriak-teriak, sampe Pak John nanya, baru pertama kali liat? tanyanya heran. Iya, kataku, kali ini, lagi-lagi ga pake malu-malu. Oh plis d, aku kan anak gunung, wajar dong, kaya rusa masuk kampung hehehe. Tapi pas akhirnya aku liat dophin dari kejauhan, aku tidak berteriak sekeras yang sebelumnya. Udah abis tenaga neriakin ikan terbang.